Start Substacking
Another writing platform for me
Salah satu teman saya menyebutkan tentang Substack di twitter. Memang beberapa kali di timeline dan rekomendasi tulisan medium, kata substack ini sudah muncul, namun saya tidak mengira bahwa ini adalah platform berbagi tulisan yang lain.
Ketika tahu ternyata ini tempat berkumpulnya tulisan-tulisan berkualitas lainnya, saya mencoba untuk mencari tahu, “bedanya apa dengan medium? Apa ini benar-benar menjadi platform tandingannya?”.
Saya sampai sengaja mencari tahu berulang-ulang kali lewat penulurusan dengan google. Akhirnya sampai menemukan tulisan Macy Lu: Medium vs. Substack — What I’ve Learned from Writing on Both. Ternyata ada juga yang menulis di keduanya. Jadi memang fungsinya bisa tidak saling menghilangkan satu sama lain.
Di situ saya setuju.
Saya sudah merasa bahwa blog saya di medium harus serius banget dalam membuat tulisannya. Bahkan saya buat target di medium satu bulan satu kali. Satu kali hikmah hidup, satu kali artikel tentang keilmuan yang sedang saya geluti. Menulisnya sekarang tidak bisa hanya sekadar mindless writing. Padahal tidak ada yang mengatur itu, publish mah publish aja.
Padahal ada kebutuhan untuk terus berlatih menulis dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bukan hanya sebulan sekali saja. Bahkan kalau tidak dilatih, ya menulis yang satu bulan sekali pun itu akan kesulitan.
Akhir-akhir ini pun saya merasa orang yang suka nulis kalau lama-lama gak dilatih lagi untuk menulis, sense untuk bercerita lewat tulisannya suka tiba-tiba kacau. Mungkin di satu sisi emang pikirannya juga lagi kacau ya. Di sisi lain berarti aktivitas untuk membereskan pikirannya (yang biasanya bisa dilakukan lewat tulisan) ya tidak ada. Twitter bahkan tidak bisa menjadi alternatif karena sudah terlalu ‘berisik’.
Maka dari itu, ketika saya melihat Substack, “wah kayanya bisa jadi tempat menulis sehari-hari nih”, dan ya, saya akan menggunakannya untuk itu.
Kenapa tidak menulis di jurnal pribadi saja?
Ada juga kok itu tempatnya haha saya suka buat jurnal di notion. Cuman saya merasa masih butuh punya satu platform lagi untuk menulis hal-hal yang sering saya pikirkan, hal yang sering menjadi pertanyaan, cuman gausah berat-berat, ringan-ringan aja gitu (karena yang berat akan saya bawa ke medium pasti).
Saya sering banget menemukan hikmah dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, dan mungkin itu akan menjadi hikmah sesaat aja kalau gak ditulisin, gaada proses sintesis untuk menyimpulkan hikmah seperti apakah itu. Minggu depan udah lupa lagi, nunggu ‘diingetin’ lagi. Bahkan harapannya kalau saya tulis yang bisa saya akses public ini, ada yang bisa ingetin. Minimalnya dari diri saya sendiri merasa, “harus melaksanakan apa yang saya tulis”.
Saya juga sering menemukan pertanyaan-pertanyaan dalam hidup, tapi kadang terlalu remeh untuk saya tanyakan dalam tulisan dan terlalu sayang banget juga kalau misalnya lewat begitu saja. Bisa jadi itu lead to another discoveries kan ya. Atau ya pertanyaan-pertanyaan itu, ketika ada yang baca, ternyata ada yang punya jawabannya, jadilah terbentuk diskusi.
Nah dengan latar belakang di atas, saya akan mencoba lebih sering nulis banyak-banyak dan ringan-ringan di Substack, sekaligus tempat latihan saya dalam menulis juga. Berbeda dengan di medium yang mungkin tetap saya batasi sebulan sekali, namun muatannya insyaAllah bisa lebih saya buat sekomprehensif mungkin.
Jadi jangan berharap banyak dari mengikuti tulisan saya di platform yang ini lah yah hahaha.
Saya juga memberi nama publication-nya ‘Mujek’s Learning Log’. Saya underline bagian ‘log’-nya. Biar keliatan di sini tuh bagaimana perkembangan pembelajaran dari waktu ke waktu. Bisa jadi tulisan saya di Oktober 2025 adalah untuk menyelisihi tulisan yang sudah akan saya tulis juga di Oktober 2024.
Begitu saja dari postingan pertama saya di sini, terima kasih jika teman-teman sudah mau membaca sampai sini.



Saya baru coba nulis, tapi gatek penggunaan Substack... adakah tutorial nya